Suara NU Dan PKB Jadi Penentu di Pilkada DKI Putaran Kedua

WARTAHOT – Pengamat Komunikasi Politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH), Emrus Sihombing, mengatakan, pasangan calon (Paslon) dan tim sukses (Timses) dari kedua kubu, Ahok-Djarot dan Anies-Sandi sedang bekerja keras untuk menunjukkan bahwa mereka layak memimpin Jakarta lima tahun ke depan.

Salah satunya, kata Emrus, berupa video dukungan dari para tokoh nasional menyebar di berbagai media sosial (Medsos). Bahkan, lanjut dia, para tokoh nasional tersebut memberikan dukungan. Ada yang memberi jaminan bahwa paslon yang didukungnya lebih baik dari paslon yang lain.

“Karena itu, dari aspek komunikasi politik, kekuatan kedua paslon tidak berbeda signifikan. Mereka berhasail meraih simpati masyarakat lewat wacana publik. Kedua paslon tampaknya mampu membangun opini dalam rangka merauk suara pemilih,” ujar Emrus, Jakarta, Rabu (12/4).

Melihat ketatnya persaingan merebut simpati masyarakat, menurut Emrus, pemenang ditentukan oleh upaya salah satu paslon dan tim sukses merangkul pemilik suara dari Nahdlatul Ulama (NU) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pusat maupun di tingkat DKI. terkait hal itu, Emrus menyebutkan tiga alasannya.

“Pertama, NU sebagai organisasi terbesar secara nasional maupun di DKI. Kedua, NU sebagai organisasi keagamaan yang senantiasa mengusung isu keberagaman, seperti konsep Islam Nusantara,” jelasnya.

Ketiga, lanjut dia, sebagai partai identitas, kader dan simpatisan PKB sangat militan dan loyal terhadap partai. Menurut dia, para paslon dan tim sukses harus menggunakan waktu yang tersisa ke depan untuk meyakinkan dan merangkul NU dan PKB.

“Ketika NU dan PKB pusat dan DKI mendeklarasikan dukungan secara penuh dan terbuka kepada salah satu paslon, secara hopotetis, paslon tersebut berpeluang besar memenangkan pilkada DKI putaran kedua,19 April 2017 daripada paslon lain,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *